Berbagai Batu Akik Langka dari Lamuk

Koleksi milik Mbah Darman. kisaran harga Rp15 juta.

Koleksi milik Mbah Darman. kisaran harga Rp15 juta.

Part 1 : Sindoro Sumbing dan Lafal ‘Allah’ Tergambar Di Akik

Berbagai Kisah Dari Pameran Batu Aji Pertama Di Wonosobo

“Kalau saja bisa dilakukan seminggu, pasti tetap ramai, apalagi batu yang asli Lamuk Wonosobo kualitasnya cukup tenar dan banyak yang mencari. Bahkan pada hari ke dua ada seorang kolektor asal parakan yang memborong hingga nominal Rp5 juta,” ungkap Widi Sekretaris komunitas pecinta batu mulia sekaligus kasir pada Pameran Batu Aji Wonosobo yang digelar sejak Jumat(20/3) hingga Minggu(22/3) itu.

Sebanyak 24 pedagang batu akik yang berasal dari berbagai daerah turut meramaikan pameran tiga hari tersebut, bahkan salah satu stand yang ada di depan sengaja diplot untuk display aneka batu aji asal Lamuk Wonosobo. Yatno penjaga stand mengaku ada tiga atau empat batu yang memang tidak boleh ditawar, selain karena sangat unik, juga memiliki keistimewaan.

“Batu yang paling langka adalah yang ada lukisan lafal “Allah” dalam bahasa arab. Selain unik, ini jarang sekali bisa ditemukan. Sudah beberapa kali di tawar, tapi belum dilepas karena dibanderol Rp5 juta,” tutur Yatno yang sehari-hari berprofesi sebagai pengerajin akik di Lamuk.

seakan terlukis lafal "Allah" dalam bahasa Arab.

seakan terlukis lafal “Allah” dalam bahasa Arab.

Selain batu berlafal Allah tersebut ada pula salah sat kolektor yang meramaikan pameran dan merupakan seorang pnsiunan wartawan. Haji Sudarman yang biasa disapa ‘Mbah’ Darman juga memamerkan puluhan koleksi pribadinya baik yang dijual maupun tidak.

“Yang istimewa dari koleksi saya ada beberapa, salah satunya adalah yang bergambar gunung Sindoro Sumbing dan telaga. Harganya Rp15 juta. Ada pula yang bergambar candi dieng tapi tidak ada niat untuk dijual,” tutur mbah Darman sambil menunjukkan koleksi-kolesinya yang terhitung langka itu.

Mbah Darman tunjukkan koleksi kesayangannya yang bergambar candi dieng.

Mbah Darman tunjukkan koleksi kesayangannya yang bergambar candi dieng.

Menurut pria kelahiran 1946 itu, keikutsertaannya dalam pameran tersebut memang tidak ditujukan untuk menjual sebanyak-banyaknya koleksi yang dimilikinya, tapi sebagai bentuk apresiasi dan dukungan pada komunitas yang diharapkan bisa diadakan kembali. Dirinya mengaku telah mulai mengoleksi sejak masa SMA yakni pada tahun 60an dan diteruskannya hingga saat ini.

Selain batu bergambar, mbah Darman juga memiliki sebuah akik yang dibelinya pada tahun 1981 dengan motiv mata kucing dan masih menghiasi jari manisnya hingga saat ini. Kolekinya yang didominasi batu bergambar membuat para pengunjung antusias mendengar kisah dibalik gambar-gambar yang tersembunyi.

Bagi mbah Darman, batu akik, khususnya yang bergambar dikoleksi bukan karena nilai mistisnya, namun keindahannya. Bahkan menurutnya, nilai esetis yang ada dalam satu batu tidak bisa dibandingkan dengan batu yang mirip karena pasti berbeda, meskipun berasal dari satu bongkahan batu yang sama.

Hal tersebut diamini oleh Toni Susanto, pengerajin batu aji asal Sumberan yang beberapa bulan ini selalu banjir order. Kini bengkelnya tak pernah sepi dari pelanggan yang ingin menggosok batau ataupun mencari ‘emban’ atau cincin. Bahkan banyak pelanggan Toni yang kadang harus rela mengantri untuk menggosok akik ditempatnya. Bagi Toni, nilai sebuah batu akik terletak pada keindahan dan kehalusan pengerjaannya. (Erwin Abdillah/Wonosobo)

Part 2: Penjualan Akik Capai Rp100 Juta Dalam Tiga Hari

WONOSOBO – peminat batu aji atau akik yang membanjiri pameran selama tiga hari di kompleks taman Selomanik Wonosobo ternyata menjadi jalan rezeki bagi para pengerajin dan kolektor yang mengkuti ajang tersebut. Betapa tidak, rata-rata per harinya, omzet penjualan akik tembus Rp30juta dan terus meningkat pada hari ke dua dan ke tiga.

“Pada hari pertama kami mencatat transaksi lebih dari Rp 30 juta, kemudian naik menjadi Rp40 juta dan di hari terakhir ini(22/3) sudah tembus Rp30 juta pada pukul 5 sore. Mungkin bisa tembus Rp 50 juta pada penutupan jam 10 malam nanti,” tutur Widi kasir di pameran tersebut.

Sistem kasir yang diberlakukan pada pameran, selain untuk menjaga keamanan transaksi, juga diharapkan seluruh transaksi tercatat rapi dan pedagang bisa focus pada penjualan tanpa harus memegang uang. Widi menilai bahwa tempat yang digunakan pada pameran pertama tersebut ternyata tidak cukup menampung pengunjung yang jumlahnya ditaksir hingga ribuan per harinya.

Suasana Pameran batu Aji Lamuk Gemstone Wonosobo hari ke 3 (22/3).

Suasana Pameran batu Aji Lamuk Gemstone Wonosobo hari ke 3 (22/3).

“Dari mulai bapak-bapak hingga anak SD banyak yang tertarik dan membeli, kami berharap kedepannya bisa mengadakan kembali di tempat yang lebih luas. Untuk pedagang kami buat aturan harus terdaftar meskipun berada di luar gedung sehingga aman dan tertib.,” imbuh Widi yang juga pengurus komunitas pecinta batu aji Wonosobo itu.

Dari pengamatan Widi, salah satu penjualan terbesar tercatat di hari ke dua yakni ada dua pembeli yang membeli dengan total Rp5 juta dan lainnya membeli sebuah akik dari Sudarman seharga Rp3 juta. Sementara lainnya berkisar dari Rp50.000 hingga ratusan ribu. Sebanyak 24 peserta pameran tidak hanya menyediakan batu akik jadi, tetapi juga bahan, liontin, emban atau cincin, dan juga borongan.

“Bahkan karena sudah hari terakhir dan hendak ditutup, ada salah seorang penjual yang menjual secara borongan dengan harga Rp5 juta untuk 50 buah akik,” tukas Widi.

Boleh diborong! 50 batu cuma Rp5 juta.

Boleh diborong! 50 batu cuma Rp5 juta.

Sigit Sukarsana kepala Dispartabud yang juga mengunjugi pameran mengaku bangga dengan capaian dari acara yang digelar pertama kali di Wonosobo itu. Sigit berharap kedepannya pameran bisa diadakan kembali di tempat yang lebih luas seperti Gedung Korpri dan bisa menampung lebih banyak peserta dan pengunjung.

“Jika diadakan kembali, saya berharap bisa memakai tempat yang lebih besar dan melihat peluang yang bagus secara wisata dan ekonomi karena banyak pengunjung luar daerah juga,” tutur Sigit yang mengajak putranya melihat berbagai koleksi dan tengah hunting batu kesukaannya. (win)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s